Postingan

6. PELAYARAN = Biru

Ketika ombak begitu tenang. Ditengah hatiku yang terombang-ambing, Pikiran ku yang bekerja tanpa henti. Terkadang, aku menatap langit dengan begitu lama. Apakah, langit yang begitu luas ini juga sedang dipandangi oleh seorang seperti ku. Apakah ada manusia yang pernah ingin tahu, apakah biru langit sama menakutkan nya dengan lautan ini. Apa yang membedakan jika aku berlayar di langit itu. Apakah lebih baik? Setidak nya tidak ada ombak besar yang bisa menenggelamkan mu.  Tapi sayang nya aku takut petir. Tidak ada tempat yang aman didunia ini. Yang benar adalah akhir. Yang benar adalah keabadian. Yang benar adalah tujuan. Kemana kita bisa pergi? Sejauh apapun kita terbang melalui angkasa dan seluruh langit didunia. Atau berkelana di berjuta samudra di seluruh alam semesta. Tetap saja, jika itu bukan akhir, kita tetap tidak akan kemana-mana.

5. PELAYARAN = Jam waktu

Lautan, ombak, badai.. Dalam, takut, mati.. Hidup ini adalah tentang menunggu jam waktu membunyikan alarm nya. Hidup terasa cepat bagi mereka yang lupa waktu, tapi terasa begitu lambat bagi mereka yang menunggu waktu. Begitu juga aku, aku pernah berlayar dilautan penuh suka cita, walaupun sendiri, aku merasa berada dikapal Titanic penuh kemewahan. Lautan terasa dangkal dan biru bening ingin ku Selami, ombak bagaikan pelajaran bahasa Inggris yang tiap sapuan nya ingin kuselesaikan dan kufahami, badai adalah kesempatan ku untuk berlari tidur ditengah perasaan sendu, disertai alunan puisi dari pak Sapardi. Hidup betapa mudah kala itu. Saat ini, hidup adalah ketakutan. Perasaan bagikan kertas kertas yang di robek lalu dihamburkan. Lautan terlihat sangat gelap membuatku ketakukan kala membayangkan betapa dalam nya itu, ombak adalah tsunami yang sekali lagi menghancurkan seluruh isi hatiku menjadi puing-puing, badai bagaikan siang dan malam yang tak pernah berhenti berotasi. Tapi, jam waktu ...

4. PELAYARAN = Ingatkan aku pulang.

9 February 2025 Kamu tau? Lautan itu seluas apa? Berlayar sendirian ditengah lautan, mengayuh kapal dengan tangan kecil yang sedikit lagi kasar, beberapa kali terluka karna mencoba bertahan ditengah badai, tapi terima kasih, tuhan! Masih kau beri sembuh walau masih ada luka membekas. Semakin lama, semakin jauh. Semakin jauh, semakin lambat. Semakin lambat, semakin nyaman. Itulah pelayaran, walau kadang aku memaki akan rasa frustasi. Tapi, apa yang membuat ku kesal? Kekesalan ditinggal sendiri? Dibiarkan berlayar sendiri? Tapi kini kau menyukainya kan? Sendiri tidak selalu menyedihkan ternyata, hanya ada aku atas kehendak diriku, hanya aku yang menjadi peta arah ku, ada aku yang penuh percaya padaku kemana arah pelayaran yang ku ambil. Pelayaran ini akan berganti kisah, sudah lupakan saja kemarahan ku sebelumnya. Sekarang aku tak apa, walau sekarang muncul masalah baru, semakin jauh aku, semakin buram mata ku melihat arah pulang. Meskipun cerita ini adalah cerita dimana aku mencari ...

3. PELAYARAN : BARU

30 September 2024. Halo, masih bersama Nala disini. Aku sudah ditempat yang baru sekarang, berlayar di lautan yang baru. Rasanya masih sama, tidak ada satupun tepat didunia yang tidak ada rasa sakitnya. Aku merindukan nya, banyak yang aku rindukan.  Aku bahagia, aku tidak menangis lagi. Aku menangis, bahagia ku banyak sekali. Kini aku lebih dewasa, berlayar sudah aku pelajari caranya. Tinggal bagaimana cara bertahan saja. Apa aku bisa. Biarkan aku bercerita tentang apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Aku jatuh suka, bahagia sekali rasanya. Orang nya sangat manis, lucu dan tampan. Tapi sayang, bukan waktuku untuk bermain. Karna aku masih terombang ambing.  Tempat baru ini asing sekali rasanya. Masih saja ini seakan mimpi, aku jauh dari nya, jauh dari semua luka ku. Jauh juga darinya, jauh dari bahagia ku.  Aku menanti bagaimana perjalan ini hingga aku sampai pada lautan yang lain lagi, pelayaran ini baru dimulai.  Kalian, mau menemani aku kan?

2. PELAYARAN : bayangan itu, menyilaukan.

20 juni 2024 Aku masih berlayar, juga masih sendirian. Tuan bajak laut yang aku ceritakan itu, sudah tidak pernah lagi menghiburku, menyelamatkan ku.  Tapi, aku masih terus mengarahkan kapal ku kearah cahaya itu. Mengayuh sekuat mungkin, secepat mungkin. Keringat ku menambah asin lautan. Semakin dekat aku berlayar, semakin gemerlap pula cahaya itu. "Apa itu?"  Cahaya yang ada didepan ku, memberikan bias terhadap tubuh ku. Aku mulai menggerak kan tangan ku. Dan ada tangan lain yang mengikuti ku.  Biar kan aku menceritakan yang sejujur nya. Sebenarnya, jemari ku yang kecil ini, yang ku pakai untuk belayar ini. Sebelum nya, pernah digenggam dengan erat. Diajak nya jemari ku membentuk ular, membentuk kelinci, membentuk buaya. Oh, tuhan. Aku sangat menyayangi orang itu. Kau ingat, tuhan? Saat aku berlarian, mencari nya pada hutan yang tidak aku tau ujung nya dimana. Memegang satu harapan pasti, bertemu dengan nya. Sejak kapan aku membencinya? Aku ingat! sejak dia meninggal kan...

1. PELAYARAN : aku Nala

12 April 2024 Apa yang manusia ketahui tentang cinta? Bagiku, cinta seutuh nya adalah tanda tanya besar yang tidak pernah aku dapatkan jawabanya. Sering kali aku merasa, bahwa yang sedang aku rasakan adalah cinta. Tapi, karna aku buta akan cinta itu, aku tidak tau, apa benar itu cinta atau angin lalu saja. Nama ku Nala, Nala artinya jantung hati. Hidupku tidak menarik, hanya dipenuhi dengan berbagai macam ombak besar yang menerpa. Lalu, biarkan aku bercerita. Pada dasar nya, setiap manusia adalah seorang pelayar. Berlayar di tengah lautan. Mencari awak kapal, kemudian menemukan dermaga yang disebut 'rumah'. Tapi berbeda dengan ku. Aku berlayar seorang diri. Ditempatkan kan di kapal ini, tanpa di ajari caranya mengemudi. 'Andal kan tuhan' katanya. Aku mengarahkan kapal ku segala arah. Tak jarang justru malah terjebak pada badai yang aku datangi dengan sendiri nya. Dermaga? Kadang aku melihat tempat itu. Ku kira itu adalah 'rumah'. Tapi bukan, bahkan tak pantas un...