1. PELAYARAN : aku Nala

12 April 2024


Apa yang manusia ketahui tentang cinta? Bagiku, cinta seutuh nya adalah tanda tanya besar yang tidak pernah aku dapatkan jawabanya.

Sering kali aku merasa, bahwa yang sedang aku rasakan adalah cinta. Tapi, karna aku buta akan cinta itu, aku tidak tau, apa benar itu cinta atau angin lalu saja.

Nama ku Nala, Nala artinya jantung hati. Hidupku tidak menarik, hanya dipenuhi dengan berbagai macam ombak besar yang menerpa.

Lalu, biarkan aku bercerita.

Pada dasar nya, setiap manusia adalah seorang pelayar. Berlayar di tengah lautan. Mencari awak kapal, kemudian menemukan dermaga yang disebut 'rumah'.

Tapi berbeda dengan ku. Aku berlayar seorang diri. Ditempatkan kan di kapal ini, tanpa di ajari caranya mengemudi. 'Andal kan tuhan' katanya.

Aku mengarahkan kapal ku segala arah. Tak jarang justru malah terjebak pada badai yang aku datangi dengan sendiri nya. Dermaga? Kadang aku melihat tempat itu. Ku kira itu adalah 'rumah'. Tapi bukan, bahkan tak pantas untuk disebut dengan tempat bersinggah.

Selalu aku bertanya, kenapa hidup ku seperti ini. Aku kesepian di tengah lautan, di kapal kosong ini. Lelah sekali aku belayar, dengan tangan kecil ku mengendalikan kapal. Aku buta arah, aku tak tau harus kemana, arah yang mana.

Aku selalu tersesat. Aku mengarah kan kapal ku ketempat yang salah. Membuat aku terluka, selalu terluka.

Kadang kesepian lebih menakutkan dari pada kematian. Hingga, keputusasaan mendorongku untuk masuk saja ke dalam lautan. Membiarkan lautan yang dingin dan dalam menelan ku. Apa aku akan diterima?

Tapi, kadang bajak laut menyelamatkan ku. Mengatakan 'bagaimana jika hidup lebih lama lagi?'

Tak munafik, aku butuh bajak laut itu menemani ku, mengusir sepi ku jauh jauh. Membayangkan betapa asik dan seru nya pelayaran ini jika dilalui bersama dirinya. Begitu banyak hal yang bisa kami bicara kan bersama. Bahkan selamanya tidak akan cukup.

Tapi tetap saja, dia adalah bajak laut. Dia hidup untuk berpetualang. Dia terlalu bebas untuk aku yang belum merdeka. Dia punya tujuan lain. Dia punya harta karun yang selalu dia impikan. Dia hanya mau harta karun yang satu itu. Dia tak mau, tak butuh yang lain, Bahkan aku.

Akhirnya, aku melanjutkan pelayaran ini sendirian.

Aku terombang-ambing saat ini. Kepala ku bagaikan laron laron yang berterbangan. Kertas-kertas yang di robek berkeping-keping kemudian dihamburkan. Kacau, sangat kacau.

Ada secercah harapan disana. Ada tempat dimana aku bisa meninggalkan tempat ini. Walaupun aku masih sendiri, setidaknya aku meninggalkan tempat sesak ini. Aku hampir tidak bernafas.

Tapi, aku tidak tau. Apakah tuhan akan membantu aku lagi kali ini. Aku begitu durhaka.

Aku terlalu larut dalam kesedihan. Dan kadang bertanya kepada - Nya kenapa harus aku. Begitu banyak sedih ku. Kenapa diriku. Tak sanggup lagi pundak ku.

Hidupku, ditentukan oleh pelayaran ini. Maka, biar kan aku berlayar tuhan. Bantu, bantu aku.

Aku harus menemukan awak kapal yang mau ikut berlayar bersama ku. Aku juga harus punya banyak makanan yang bisa aku nikmati dalam pelayaranku. Aku harus menemukan dermaga itu, rumah itu.

Cinta itu.


Nala, ombak, lautan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

6. PELAYARAN = Biru

5. PELAYARAN = Jam waktu